27 Juni 2009

Artikel Ekonomi



MENILAI PEMBANGUNAN EKONOMI SBY
Oleh : Yeniwati, SE

Tulisan ini merupakan pemikiran penulis selaku kalangan akademis yang berusaha untuk tidak terkontaminasi oleh kepentingan golongan ataupun politis belaka, tetapi lebih kepada kajian ilmiah, karena melalui hal-hal seperti inilah kita berusaha menyampaikan hal yang baik dan benar kepada masyarakat dan bukan membodohi masyarakat dengan segala slogan-slogan ekonomi dari para capres yang malah membingungkan masyarakat pemilih itu sendiri.
Plus Minus Pembangunan Ekonomi SBY
Kembali kepada judul diatas, dimulai dari tahun 2004 lalu ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memulai pemerintahannya sampai sekarang, laju pertumbuhan ekonomi selalu positif (kisaran 5%), bahkan ketika krisis global terjadi di penghujung tahun 2008 sampai sekarang, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat eksis pada point 6.4%, keadaan ini terjadi pada sedikit negara seperti Tiongkok dan India, selebihnya sebagian besar negara-negara di dunia mengalami pertumbuhan yang negatif.
Namun apakah ini merupakan indikator bahwa perekonomian di jaman SBY lebih baik, karena ada beberapa indikator pembangunan ekonomi lainnya yang tampak stagnan dan mengalami kemunduran seperti tumpukan pengangguran dan kemiskinan yang sekarang masih tampak nyata, dan peningkatan hutang luar negeri Indonesia yang cukup besar (Walaupun secara devisa negara mencapai 50 Milyar Dollar dan merupakan terbesar dalam sejarah bangsa ini).
Bila dilihat dari indikator diatas, terutama pada laju pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai selama ini, memang masih rendah. Akan tetapi pencapaian yang dilakukan saat ini cukup baik bila dilihat dari kacamata sistem perekonomian modern. Dimana pemerintah tidak terlampau banyak melakukan intervensi secara mendalam untuk menyelamatkan ekonomi, dan lebih mengandalkan mekanisme pasar untuk menjadi mesin utama bagi kehidupan ekonomi. Inilah yang tampak menjadi asumsi kebijakan Menteri Perekonomian Boediono saat itu.
Penilaian Pembangunan Ekonomi SBY : Tergantung Selera Anda !
Apakah kebijakan ekonomi Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono sekarang ini sudah yang optimal? Ini mungkin tergantung dari selera. Para ekonom di luar pemerintah suka mengkritik kolega-koleganya di dalam pemerintah, seolah-olah mereka mau mengatakan “kalau saya dijadikan menteri ekonomi maka pembangunan bisa saya genjot”. Tetapi, dari pengalaman sudah terbukti resikonya: inflasi bisa meningkat. Sukses dari policy demikian masih tergantung dari kualitas pemerintahan. Kualitas pemerintahan sekarang menurut penulis mungkin bisa dibilang “cukup”( Nilai C), akan tetapi masih jauh dari ideal.
Akan tetapi bagi yang berselera lain, yang lebih mengutamakan potensi peningkatan pembangunan, dan bahaya inflasi diremehkan. Apa yang telah dilakukan oleh pemerintahan SBY dalam pembangunan Ekonomi sangat kurang dan semestinya masih dapat ditingkatkan. Karena menurut orang yang berpaham seperti ini, hanya dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggilah dapat menekan pengangguran dan mengurangi kemiskinan. Sekarang kembali kepada selera kita masing-masing, karena tiap kebijakan perekonomian, apakah itu perekonomian rakyat ( Social Economics ) ataupun perekonomian bebas ( Liberal Economics ) memiliki sisi positif dan sisi negatif, tergantung bagaimana kita memanfaatkan dan menggunakannya…..
Penulis Adalah Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang
Prodi Ekonomi Pembangunan

Tidak ada komentar: